Kamis, 14 Agustus 2014

China widens currency's fluctuation vs. dollar

BEIJING (AP) — China announced on Saturday a modest easing of exchange rate controls that have been criticized by Washington and other trading partners, adding to a flurry of reform initiatives aimed at making its slowing economy more efficient.
The range in which the tightly controlled yuan is allowed to fluctuate against the dollar each day will double in size, though to a still relatively narrow 2%.
The move was widely expected after Premier Li Keqiang promised in an annual policy speech last week to give market forces a "decisive role" in allocating credit and other resources in the state-dominated economy.
The ruling Communist Party says it wants to inject more competition into the economy and nurture self-sustaining growth based on domestic consumption instead of trade and investment.
In a steady drumbeat of recent changes, authorities also have announced plans to create China's first privately financed banks and promised to ease the tax and regulatory burden on entrepreneurs.
Widening the trading band will help to "optimize the efficiency of capital allocation and market allocation of resources to accelerate economic development," the central bank said in a statement.
The U.S. Treasury Department had no immediate reaction to the announcement.
China's rapid economic growth tumbled to a two-decade low of 7.7% last year. This year's official growth target is slightly lower at 7.%, but Li said this week Beijing will be flexible about it as long as the economy generates enough new jobs.
Washington and other governments complain Beijing suppresses the value of the yuan, unfairly making Chinese exports cheaper abroad and hurting foreign competitors.
The relatively small size of Saturday's change appeared unlikely to mollify Beijing's foreign critics. Some U.S. lawmakers have demanded punitive tariffs on Chinese goods if Beijing failed to ease controls, but the White House has resisted imposing sanctions.
Beijing reported a $260 billion global trade surplus last year, a $30 billion increase over 2012 and among the largest ever recorded by any country.
Chinese leaders say they plan eventually to let the yuan float freely, but private sector analysts say that might be decades away.
Beijing is reluctant to allow big changes in the currency for fear of hurting exporters that employ millions of workers. But analysts say they might have gained confidence from recent strong trade performance.
Allowing the yuan to rise in value would increase the buying power of Chinese households, helping to achieve the ruling party's goal of nurturing more sustainable economic growth based on domestic consumption instead of trade and investment.
A stronger yuan also could help to suppress pressure for politically sensitive consumer prices to rise by making imports cheaper.
Reform advocates say that by suppressing the yuan's value, Beijing has been forcing even poor households to subsidize exporters.
In recent weeks, the central bank has been guiding the yuan's exchange lower against the dollar in what analysts said was an effort to discourage speculators who are moving money into China to profit from the currency's rise.
Reader's Opinion :
Suhartadi Ramadhani
16210717
4EA10
China has been known to manipulate its currency and it has been criticized by Washington and other trading partners because Beijing suppresses the value of the yuan and unfairly making Chinese exports cheaper abroad and hurting foreign competitors.  And the government thinks that “if currency manipulation is so great for exports, why don’t we do it?”
Allowing the yuan to rise in value world increase the buying power of Chinese households helping to achieve the ruling party's goal of nurturing more sustainable economic growth based on domestic consumption instead of trade and investment and a stronger yuan also could make imports cheaper. But doesn’t that mean all the things which have involved poor households are for ruling party’s sake? Is it fair for those poor households? In conclusion, they need to stop manipulating their currency. 
Source of article : 
http://www.usatoday.com/story/money/markets/2014/03/15/china-currency-yuan-dollar/6473135/

Peluang Usaha Keripik Tempe & Cara Membuat Keripik Tempe

Bagi pembaca blog Ide Bisnis dan Ide Usaha. Kali ini blog sederhana ini akan menerangkan tentang peluang usaha keripik tempe serta cara membuat keripik tempe.

Keripik tempe mungkin sudah banyak sekali yang memproduksi. Serta jenis kerupuk ini juga sangat mudah ditemui di pasaran.

Selain dijadikan pelengkap ketika makan, tak jarang pula keripik dari tempe dijadikan sebagai cemilan. Sehingga permintaan untuk keripik ini sendiri tergolong tinggi. Untuk pembuatan nya sangatlah mudah serta bahan dasarnya yaitu tempe juga sangat mudah untuk diperoleh.


Walaupun baru-baru ini diganggu masalah harga kedelai yang tinggi. Tetapi sekarang harga kedelai juga sudah mulai stabil. Sehingga peluang bisnis keripik yang terbuat dari tempe ini tetap menjadi usaha yang patut diperhitungkan.

Untuk menjalankan usaha ini, sebenarnya sangatlah sederhana. Sebab untuk membuat makanan ini tergolong mudah dan dapat dijalankan sendiri. Ya, tinggal iris-iris tempe kecil-kecil kemudian diberi bumbu-bumbu dan digoreng, jadi deah keripik gorengnya.

Untuk cara membuat keripik tempe yang lebih lengkap, berikut resep-resepnya:
Bahan-bahan yang diperlukan:
  • Tempe
  • 300 gram tepung beras
  • 150 gram tepung tapioka atau tepung kanji
  • 1 butir telur ayam
  • Air secukupnya
  • Minyak goreng
  • Bumbu yang sudah dihaluskan yaitu 10 gram ketumbar, 50 gram Bawang putih, 50 gram Kemiri, 1/4 sendok teh Kunyit bubuk ( jika suka ), 8 gram Garam serta 5 gram Daun jeruk.
Tahap-tahap pembuatan keripik tempe:
  1. Untuk lapisan, campurkan tepung beras, tepung tapioka, telur ayam dan bumbu yang sudah dihaluskan hingga rata.
  2. Tuang air sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk hingga rata, kemudian sisihkan.
  3. Iris-iris tempe tipis-tipis kurang lebih dengan ketebalan kira-kira 0,5 mm – 1 mm.
  4. Celupkan tempe yang sudah diiris-iris dalam adonan lapisan, angkat kemudian tiriskan.
  5. Goreng pada minyak dengan api sedang hingga kering dan berwarna kuning kecokelatan.
  6. Angkat, kemudian tiriskan dan dinginkan.
  7. Keripik tempe siap untuk dipasarkan.
Nah, bagaimana mudah bukan cara membuatnya?

Oke, sepertinya hanya itu saja ulasan sedikit mengenai peluang usaha keripik tempe serta cara membuatnya. Mudah-mudahan bagi anda yang ingin berwirausaha, khususnya bagi yang memiliki modal yang tidak terlalu besar. Usaha ini dapat dijadikan referensi, sebab usaha ini dapat dijalankan dengan modal yang kecil. Kita tidak tau kapan kita akan mati, jadi jadikanlah hidup ini supaya lebih berarti.

Perkembangan Bisnis Online Di Indonesia



Melihat Potensi Toko Online Di Indonesia Dengan Perkembangan Internet Yang Ada
Pertumbuhan bisnis di Indonesia terutama bisnis online Indonesia semakin membumi, perkembangan yang pesat ini dikarenakan semakin mudahnya cara akses internet bagi masyarakat akhir-akhir ini. Meningkatnya jumlah pengguna ini diawali sejak tahun 2012 lalu dan inilah yang menjadi salah satu cikal bakal dari menjamurnya bisnis online.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada akhir tahun 2013 jumlah pengguna internet mencapai angka 71,9 juta orang di Indonesia. Angka itu naik sekitar 13% dibanding tahun 2012, yang mana pada tahun itu pengguna internet hanya sekitar 63 juta pengguna saja.
Jika melihat pertumbuhan angka pengguna internet tersebut, dapat diprediksikan para pengguna internet di Indonesia akan terus bertambah hingga mencapai sekitar 30% dari total jumlah penduduk Indonesia, atau dapat dikatakan akan ada 82 juta penduduk Indonesia yang menjadi pengguna internet.
Dengan melihat perkembangan tersebut banyak yang melihat peluang dari perkembangan internet untuk berbisnis. Dari data yang ada sekitar 77,81 % penggunaan internet dilakukan untuk mencari informasi barang yang mereka butuhkan atau inginkan hal ini jauh lebih besar dibanding untuk mengakses internet yang hanya sekitar 61,23%.
Melihat perkembangan tersebut juga Indonesia menjadi sasaran para pengembang bisnis online dunia. Hal tersebut terjadi dikarenakan Indonesia merupakan negara yang intensitas jual-beli secara online sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan toko online terbesar di dunia dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 17%.
Pola hidup masyarakat Indonesia yang berubah serta meningkatnya angka pendapatan perkapita yang diperkirakan sekitar 3.000 USD setiap bulan, menjadi alasan untuk berkembangnya aktivitas jual beli online. Semakin banyaknya masyarakat yang berpenghasilan 3-5 juta perbulannya tersebut membuat semakin banyaknya kalangan menengah yang memiliki daya beli yang cukup tinggi di aktivitas online.
Melihat pertumbuhan pasar online yang besar ini, tidak mustahil bila tahun-tahun kedepannya pengguna internet di Indonesia semakin meningkat, sesuai dengan target yang telah ditentukan pada tahun 2014 ini jumlah pengguna internet di Indonesia diharapkan bisa  mencapai 107 juta jiwa.
Melihat hal tersebut potensi berbisnis online akan semakin besar karena semakin banyak masyarakat yang tidak mau ribet untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan. Jadi mari buat bisnis online kita sendiri, apalagi ada platform toko online yang mudah digunakan seperti www.webpraktis.com
Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/53210c560d8b467f218b46e0#post53210c560d8b467f218b46e0 

Pengaruh Pemilu Terhadap Kurs Rupiah Dan Inflasi



Pengaruh Pemilu Terhadap Kurs Rupiah Dan Inflasi
Kurs Rupiah terhadap Dollar AS sudah beberapa hari ini berada di kisaran 11.800an. Kurs Rupiah selama prosesi Pemilu 2014 telah mengalami pelemahan signifikan dan kian hari kian parah.  Harga-harga barang juga cenderung naik. Perekonomian global memang sedang mengalami banyak masalah, khususnya  di AS dan Tiongkok yang menjadi partner dagang utama Indonesia. Kondisi itu membuat perekonomian Indonesia semakin sulit. Tetapi apakah hanya itu saja?

Disamping tekanan ekonomi dalam dan luar negeri cukup berat dan kian meningkat, sebenarnya banyak orang mengklaim bahwa dalam masa-masa pemilu, kurs Rupiah memang biasanya cenderung melemah dan inflasi tinggi. Kenapa? Dalam artikel ini, kami akan mencoba mengupas tuntas pengaruh Pemilu terhadap kurs Rupiah dan inflasi.

Kebijakan Mungkin Berubah, Investor Tunda Investasi
Dalam pemilihan umum di negara bersistem demokrasi, masyarakat akan memilih orang-orang yang akan menentukan jalannya negeri dalam beberapa tahun yang akan datang. Pemerintahan yang sekarang akan digantikan oleh orang-orang baru yang strateginya dalam menjalankan Indonesia belum diketahui. Padahal, menjalankan suatu negeri meliputi juga mengatur kebijakan-kebijakan ekonomi yang bisa jadi disukai ataupun tidak.

Kebijakan ekonomi selalu bersifat "trade-off"; akan ada sesuatu yang dikorbankan untuk mencapai sesuatu. Karenanya, suatu kebijakan yang disukai sekelompok orang, mungkin dibenci oleh kalangan lainnya. Mari ambil contoh penerapan larangan ekspor bijih mineral (mineral mentah) yang mulai diberlakukan bulan Januari 2014 berdasarkan UU Minerba. Perusahaan dilarang mengekspor barang tambangnya, kecuali mereka menunjukkan komitmen untuk membangun tempat pengolahan yang disebut smelter. Banyak pihak mengkritik kebijakan ini karena mengakibatkan banyak pengangguran dari sektor pertambangan, melebarkan defisit neraca perdagangan Indonesia, serta membuat perusahaan-perusahaan tambang lokal gulung tikar. Pemasukan pundi-pundi Indonesia dari ekspor bijih mineral itu cukup besar, sehingga kalau ekspornya bermasalah, maka dengan sendirinya defisit neraca perdagangan kita naik.

Namun pemerintah Indonesia saat ini "keukeuh" mempertahankan kebijakan tersebut. Alasannya, apabila Indonesia terus menerus mengekspor mineral mentah, maka Indonesia tidak akan pernah bisa mengolah hasil tambangnya sendiri dan selamanya tergantung perusahaan asing. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan pertambangan di Indonesia perlu dipaksa untuk membuat smelter agar ekspor Indonesia juga bernilai lebih tinggi, dan Indonesia memegang posisi tawar yang lebih baik di pasar komoditas Internasional. Jika demikian, apakah keputusan larangan ekspor bijih mineral ini baik, atau buruk? Sesuatu yang buruk di jangka pendek, bisa jadi baik di jangka panjang, dan demikian pula sebaliknya. Tetapi orang umumnya berfokus pada akibat yang dirasakan saat ini, termasuk juga akibat negatif pelarangan ekspor bijih mineral ini pada perusahaan dan pekerja tambang.

Oleh karena itu, banyak pihak telah mulai melobi calon-calon presiden agar membatalkan kebijakan tersebut. Pergantian pemerintahan pasca pemilu membuka kemungkinan adanya kebijakan yang dibatalkan, diganti, atau diperbarui. Akibatnya, para investor yang akan berinvestasi dalam pembuatan smelter cenderung menunda investasinya. Disisi lain, aktivitas ekspor barang tambang tersumbat, neraca perdagangan defisit, dan pengangguran bertambah. Iklim bisnis seperti ini ikut mendorong kurs Rupiah melemah.

Kurs Rupiah akan menguat ketika banyak investor yang membeli saham, obligasi, dan menanamkan modal di perusahaan-perusahaan Indonesia. Padahal dalam kondisi transisional seperti pemilu, orang ragu untuk menanamkan modal dalam jangka panjang. Akibatnya, investor akan cenderung membeli-lalu-menjual dalam jangka pendek, atau malah menjauh sama sekali dari Indonesia di masa pemilu. Efeknya, terjadi fluktuasi kurs Rupiah yang cukup besar.

http://www.seputarforex.com/artikel/rupiah/lihat.php?id=183247&title=pengaruh_pemilu_terhadap_kurs_rupiah_dan_inflasi

Definisi Manajemen Strategis

Manajemen strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan pengevaluasian keputusan-keputusan lintas sahashanashsafinisinya, manajemen strategis berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga tahapan dalam manajemen strategis, yaitu perumusan strategi, pelaksanaan strategi, dan evaluasi strategi.[1]
Manajemen strategis merupakan aktivitas manajemen tertinggi yang biasanya disusun oleh dewan direksi dan dilaksanakan oleh CEO serta tim eksekutif organisasi tersebut. Manajemen strategis memberikan arahan menyeluruh untuk perusahaan dan terkait erat dengan bidang perilaku organisasi.
Manajemen strategis berbicara tentang gambaran besar. Inti dari manajemen strategis adalah mengidentifikasi tujuan organisasi, sumber dayanya, dan bagaimana sumber daya yang ada tersebut dapat digunakan secara paling efektif untuk memenuhi tujuan strategis. Manajemen strategis di saat ini harus memberikan fondasi dasar atau pedoman untuk pengambilan keputusan dalam organisasi. Ini adalah proses yang berkesinambungan dan terus-menerus. Rencana strategis organisasi merupakan dokumen hidup yang selalu dikunjungi dan kembali dikunjungi. Bahkan mungkin sampai perlu dianggap sebagaimana suatu cairan karena sifatnya yang terus harus dimodifikasi. Seiring dengan adanya informasi baru telah tersedia, dia harus digunakan untuk membuat penyesuaian dan revisi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_strategis

UMKM DI INDONESIA DAN PERANAN AKUNTANSI

UMKM DI INDONESIA DAN
PERANAN AKUNTANSI



Pemerintah memberi perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM). Tidak saja jumlah Umkm di Indonesia mendominasi, tetapi juga UMKM dapat lebih bertahan dari terpaan krisis global. Salah satu tantangan utama dan kongkrit yang dihadapi oleh wirausahawan UMKM adalah terkait dengan pengelolaan dana. Ketidak-beresan pengelolaan dana seringkali menjadi pemicu terjadinya permasalahan-permasalahan yang berujung kegagalan UMKM.
Penerapan Akuntansi merupakan langkah mudah tetapi member manfaat luar biasa bagi UMKM. Dengan Akuntansi yang memadai maka UMKM anda dapat memenuhi persyaratan dalam pengajuan kredit berupa laporan keuangan, mengevaluasi kinerja, mengetahui posisi keuangan, menghitung pajak, dan manfaat-manfaat lainnya yang mungkin tidak anda duga selama ini.
Selama periode tahun 2007-2008, jumlah UMKM mengalami peningkatan sebesar 2,88%. Table berikut menunjukkan perkembangan jumlah dan proporsi jenis-jeni usaha di Indonesia.
NO
SKALA USAHA 
  TAHUN 2007 *)’ Jumlah Pangsa        (unit)      (%)  TAHUN 2008 **)               Jumlah Pangsa  (unit)    (%)       PERKEMBANGAN                                  JUMLAH         %  
1 Usaha Mikro 49.287.276         98,91 50.697.659      98,90 1.410.383             2,86
2 Usaha Kecil (UK) 498.565              1,00 520.221           1,01 21.656                  4,34
3 Usaha Menengah (UM) 38.282                0,08 39.657             0,08 1.375                    3,59
4 Usaha Besar (UB) 4.463                  0,01 -4.372              0,01 (91)                    (2,04)
 
JUMLAH
49.828.586 51.261.909 1.433.323             2,88
Keterangan :
*)      Angka Sementara
**)    Angka Sangat Sementara
Berdasar informasi dari Kementrian Bagian Data – Biro Perencanaan Kementrian Negara Koperasi dan UKm Republik Indonesia, UMKM memberi berbagai jenis kontribusi, antara lain adalah sebagai berikut :
a.)    Kontribusi UMKM terhadap Penciptaan Investasi Nasional; pembentukan Investasi Nasional menurut harga berlaku :
1)      Tahun 2007, kontribusi UMKM tercatat sebesar Rp. 461,10 triliun atau 52,99% dari total investasi nasional sebesar Rp 870,17 triliun
2)      Tahun 2008, kontribusi UMKM mengalami peningkatan sebesar Rp. 179,27 triliun atau 38,88% menjadi Rp. 640,38 triliun.
b) Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional; PDB Nasional menurut harga berlaku :
1)      Tahun 2007, kontribusi UMKM terhadap PDB Nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 2.105,14 triliun atau 56,23%.
2)      Tahun 2008, kontribusi UMKm terhadap PDB Nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 2609,36 triliun atau 55,56%.
c) Kontribusi UMKM dalam penyerapan Tenaga kerja Nasional; Pada Tahun 2008, UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 90.896.270norang atau 97,04% dari total penyerapan tenaga kerja, jumlah ini meningkat sebesar 2,43%.
d) Kontribusi UMKM terhadap Penciptaan Devisa Nasional; pada tahun 2008, kontribusi UMKM terhadap penciptaan devisa nasional melalui ekspor non-migas mengalami peningkatan sebesar Rp. 40,75 triliun atau 28,49%.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa UMKM merupakan pilar utama (soko guru) perekonomian Indonesia. Karakteristik utama UMKM adalah kemampuannya mengembangkan proses bisnis yang fleksibel dengan menanggung biaya yang relative rendah. Oleh karena itu, adalah sangat wajar jika keberhasilan UMKM diharapkan mampu meningkatkan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Menariknya, UMKM menjadikan perekonomian Indonesia tidak terkena dampak negative yang signifikan akibat terjadinya krisis global yang dirasakan sebagian besar Negara di belahan dunia karena kegiatan operasional UMKM dapat mandiri dan tidak menanggung beban besar akibat krisis tersebut. UMKM justru sebaliknya diharapkan dapat memanfaatkan berbagai peluang usaha akibat terjadinya krisis dunia tersebut karena ketidakmampuan perusahaan-perusahaan besar dunia menanggung biaya yang besar akibat biaya tetap operasional maupun biaya yang ditanggung karena utang.
DEFINISI UMKM

Bentuk UMKM dapat berupa perusahaan perseorangan, persekutuan, seperti misalnya firma dan CV, maupun perseroan terbatas. UMKM dapat dikategorikan menjadi 3 terutama berdasar jumlah asset dan omzet sebagaimana tercantum di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM sebagai berikut :
  1. Usaha Mikro: Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria:
1)      Aset ≤ Rp 50 juta
2)      Omzet ≤ Rp 300 juta
2. Usaha Kecil :  Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan/badan usaha yang bukan meruipakan anak perusahaan/bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria :

1)      Rp 50 juta < Aset ≤ Rp 500 juta
2)      Rp 300 juta < Omzet ≤ Rp 2,5 miliar
  1. Usaha Menengah : Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecilatau usaha besar yang memenuhi kriteria :

1)      Rp 500 juta < Aset ≤ Rp 2,5 miliar
2)      Rp 2,5 miliar < Omzet ≤ Rp 50 miliar
http://irriyanti.blogspot.com/2012/10/ukm-menopang-kehidupan-ekonomi-indonesia.html

Will this company soon be Buffett's biggest holding?

Believe it or not, Bank of America (ticker: BAC ) could soon become the single largest holding of Warren Buffett's Berkshire Hathaway (BRK-A ) . Shocking, I know, but the math is really quite simple.
Two and a half years ago, Buffett invested $5 billion in Bank of America. In exchange, Berkshire received a corresponding amount of preferred stock that pays a 6% dividend, and warrants to buy 700 million shares of the bank's common stock at an exercise price of $7.14 per share. The warrants expire in September of 2021.
At today's price of roughly $17.90, Berkshire has already more than doubled its initial investment -- and that excludes the preferred stake. The common-stock position has been so lucrative, in fact, that it's become, in effect, Berkshire's fifth largest equity holding.
So, here's the question: What will it take for Bank of America to supplant Wells Fargo (WFC ) at the top of Berkshire Hathaway's portfolio? And the answer is: Not as much as you might think.
Berkshire currently owns a little over 490 million shares of Wells Fargo valued at approximately $24 billion. Meanwhile, Berkshire's combined stake in Bank of America is worth a little more than $17.5 billion -- $5 billion for the preferred stock and $12.5 billion for the current value of the warrants.
Because the value of the preferred stake is essentially fixed, this means that the value of Berkshire's warrants will have to appreciate by around $6.5 billion. While that sounds like a lot, it isn't a considerable as you might think.
For this to happen, Bank of America's shares would need to increase by about $9.30 each. To be clear, that's no small accomplishment given that they've already climbed by 80% over the last two years. Additionally, there's every reason to believe that Wells Fargo's shares will continue to appreciate as well.
But Wells Fargo's stock trades for 1.62 times book value while the multiple on Bank of America's stock is 0.84 times book. To become Berkshire's largest holding, in turn, all Bank of America would need to do is close this gap by a little more than half.
Is that possible? Absolutely.
Once Bank of America puts the remainder of its financial crisis liabilities behind it (which could happen this year), it isn't unreasonable to think that the market will value its shares at more than one times book. And from there, it's only a hop, skip, and a jump to the 1.3 multiple that Bank of America needs to become, at least by holding size, Buffett's favorite bank.
The Motley Fool is a USA TODAY content partner offering financial news, analysis and commentary designed to help people take control of their financial lives. Its content is produced independently of USA TODAY.



Opinion reader :
 Apparently Buffett’s investment has gone beyond expectations. No one was expecting that Buffett’s investment would be that profitable. The fact that Berkshire has already more than doubled its initial investment has answered everything. The common-stock position has been so lucrative, in fact, that it's become, in effect, Berkshire's fifth largest equity holding. Isn’t that beyond your expectation?
And here popped up a question : What will it take for Bank of America to supplant Wells Fargo at the top of Berkshire Hathaway's portfolio? And the answer is: Not as much as you might think.
Berkshire currently owns a little over 490 million shares of Wells Fargo valued at approximately $24 billion. Meanwhile, Berkshire's combined stake in Bank of America is worth a little more than $17.5 billion -- $5 billion for the preferred stock and $12.5 billion for the current value of the warrants.

Bank of America needs to work harder to become Berkshire's largest holding, in turn, all Bank of America would need to do is close this gap by a little more than half. Is that even possible? The answer is just a simply yes.